Senin, 15 Agustus 2011

Khotbah HUT RI ke-66


KHOTBAH HUT RI KE-66
BACA   : MATIUS 12:15b-21
TEMA  : ALLAH SUMBER PENGHARAPAN SEGALA BANGSA
SUB TEMA : MEMBERI HARAPAN, BUKANNYA BERHARAP

1.      Pendahuluan
ü  17 Agustus 2011 HUT Kemerdekaan RI ke-66
ü  Cita-cita kemerdekaan belum menjadi kenyataan. Merdeka dari penjajahan Belanda & Jepang sudah, tetapi sekarang berganti dengan penjajahan dengan bentuk-bentuk yang lain; penjajahan ekonomi, penjajahan religi dan budaya, penjajahan ideologi, penjajahan kepentingan, dll.
ü  Menjadi ironis, karena pelaku-pelaku penjajahan itu tidak hanya dari bangsa lain, tetapi dari bangsa sendiri.
ü  Bukti-bukti bahwa kemerdekaan itu belum menjadi kenyataan :
Ø  Ketidakadilan terjadi di mana-mana
-          Dalam bidang ekonomi: monopoli, yang punya uang yang berkuasa
-          Dalam bidang hukum: yang punya uang; yang punya jabatan dan pengaruh yang memiliki keadilan
-          Dalam bidang keagamaan: mayoritas menguasai yang minoritas, bahkan terjadi pemusnahan minoritas secara halus
-          Dalam bidang pendidikan: yang punya uang yang boleh sekolah; kalau tidak punya uang ya tidak usah sekolah, tetaplah menjadi bodoh dan miskin.
Intinya adalah bahwa tidak ada hak dan kebebasan yang sama bagi seluruh rakyat Indonesia, kemerdekaan baru dimiliki oleh kelompok dan golongan tertentu.
Ø  Terjadinya penjajahan modern
-          Globalisasi dengan neo kapitalismenya (di mana ekonomi kerakyatan yang di jiwai oleh rakyat Indonesia?)
-          Budaya Westernisasi dan Arabisasi (di mana budaya nusantara yang begitu kaya itu?)
ü  Kemerdekaan yang terjadi adalah kemerdekaan yang membawa kehancuran, karena kesalahan pemahaman tentang kemerdekaan:
Ø  Budaya semau gue; kemerdekaan yang kebablasan.

Apakah masih ada harapan bagi dunia ini (terkhusus Indonesia) untuk benar-benar merdeka? Apakah masih ada harapan bagi rakyat Indonesia ini untuk merasakan damai sejahtera yang sesungguhnya?
2.      Firman Tuhan yang kita terima saat ini memberi jawaban bahwa masih ada harapan bagi bangsa kita untuk merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu oleh karya Tuhan Yesus:
ü  Saat itu orang-orang Israel sangat merindukan suatu kemerdekaan; baik kemerdekaan secara politik dari penjajahan bangsa Romawi, kemerdekaan hidup dari kungkungan Hukum Taurat yang diterapkan secara harfiah oleh para imam ahli Taurat, kemerdekaan dari tatatan sosial yang tidak adil dengan adanya pembedaan-pembedaan kasta, kaya-miskin; golongan rohaniawan-golongan awam, dan kemerdekaan dari kemiskinan serta persoalan-persoalan pribadi (sakit-penyakit, luka hati, kepahitan, dll)
ü  Ay. 15b mengatakan bahwa Tuhan Yesus menyembuhkan mereka semua, artinya bahwa Ia memberi jawaban atas harapan seluruh umat, dengan menyembuhkan mereka baik dari sakit jasmani maupun rohani.
ü  Hal ini sesuai dengan nubuat nabi Yesaya: bahwa Ia adalah Hamba Allah yang dipilih Allah, yang dikasihi-Nya dan yang kepadaNya Allah berkenan dan memberikan Roh-Nya, artinya bahwa Allah berkerja melalui Yesus ini untuk menolong umatNya.
ü  (ay. 19)Ia akan berkarya dengan sempurna, dengan suatu tindakan nyata bukan hanya sekedar perkataan dengan perbantahan dan teriakan-teriakan di sepanjang jalan. Ia benar-bvenar menolong dengan kasihNya tanpa membeda-bedakan, tanpa takut, tanpa perasaan malu dan jijik, dan ia melakukannya sampai mati.
ü  Dengan kasih dan karya nyataNya itu Ia memberi pengharapan baru bagi setiap manusia, bahkan bagi yang sudah tidak berpengharapan sekalipun: “Buluh yang terkulai tak kan dipatahkanNya dan sumbu yang pudar tak kan dipadamkanNya.”
Menjadi pertanyaan bagi kita saat ini adalah, bagaimana pengharapan itu menjadi nyata bagi orang-orang pada jaman sekarang, sedangkan Tuhan Yesus saat ini sudah tidak ada bersama kita sebagai manusia?
1.      Tuhan memakai hamba-hambaNya (yaitu setiap orang percaya; setiap orang Kristen; murid-murid Kristus) untuk memberi harapan dan menjawab setiap harapan bangsa-bangsa (setiap orang). Ingat perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 20:21b, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
1.Setiap orang Kristen diutus Tuhan Yesus untuk melakukan apa yang Ia lakukan di dunia ini dan apa yang Ia ajarkan, yaitu memberi harapan kepada semua bangsa (semua orang) dan menyatakan harapan itu dengan kasih nyata.
2.      Jadi gereja seharusnya menjadi gereja yang memberi harapan bagi semua orang dan menyatakan harapan-harapan itu dalam sebuah kenyataan hidup yang penuh dengan damai sejahtera, gereja harus memiliki mental berkelimpahan; memberi harapan dan mewujudkannya (sifatnya adalah memberi), bukan bermental berharap (yang sifatnya meminta dan menantikan). Gereja seharusnya menjadi donatur bukan sekumpulan orang yang mencari donatur; memberi bukan menerima. Apa yang menjadi dasar atas semua ini, yaitu bahwa Gereja adalah umat Allah, anak-anak Allah, warga Kerajaan Allah yang telah diberi segala kasih karunia dan berkat, dimana di dalam kerajaan Allah tidak ada hal yang ditakutkan dan dikawatirkan, semua tersedia dan diberikan untuk terwujudnya damai sejahtera tadi.
3.      Tema kita saat ini adalah Allah menjadi pengharapan segala bangsa, hal ini akan menjadi nyata ketika kita anak-anak Allah mau menyatakannya, mau menjadi mitra kerjaNya, mau menjadi duta-duta sembadaNya
4.      Kalau kita tidak mau, jangan salahkan Tuhan kalau Ia memakai orang lain untuk mendatangkan semua itu. Lihatlah bahwa Tuhan pun memakai orang-orang lain, seperti kelompok-kelompok sosial dari agama lain: contoh Mercy C+, Rumah Zakat, dll.
5.      Jadi tunggu apa lagi, mari kita menjadi orang-orang yang benar-benar merdeka dan memerdekakan orang. Selamat berjuang, merdeka.